Syekh Jumadil Qubro Penyebar Islam Pertama di Jawa

Makam Syekh Jumadil Kubro di Komplek Makam Tralaya
Makam Syekh Jumadil Kubro di Komplek Makam Tralaya
Penyebaran agama Islam merupakan proses yang sangat penting dalam tonggak sejarah Indonesia. Namun juga merupakan sejarah yang tidak jelas atau penuh dengan kontroversial. Hal ini dkarenakan kapan, mengapa dan bagaimana penduduk Indonesia mulai menganut agama Islam masih diperdebatkan oleh beberapa ilmuan dan tidak mungkin mencapai kata sepakat dengan sebuah kesimpulan karena sedikitnya informasi dan sumber-sumber yang diperoleh tentang Islamisasi yang terjadi di Nusantara. Namun, kemungkinan terdapat dua proses berlangsungya islamisasi di Nusantara. Proses pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing Asia seperti Arab, India dan Cina yang telah memeluk agama islam yang kemudian bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah di Nusantara, melakukan perkawianan dengan orang-orang lokal dan mengikuti gaya hidup lokal, sehingga mereka sudah menjadi orang diwilaya tersebut. Kemungkinan kedua proses ini telah sering terjadi secara bersamaan.

Petunjuk yang paling dapat dipercaya mengenai penyebaran agama Islam di Nusantara berasal dari beberapa prasasti Islam yang ditemukan dan beberapa catatan musafir Islam. Serangkaian batu nisan yang ditemukan di kuburan-kuburan di Jawa Timur di wilayah Trowulan dan Troloyo yang berada di dekatsitus istana Majaphit yang bersifat Hindu-Budha dipercaya sebagai makam orang-orang muslim yang hidup dan meninggal pada masa Kerajaaan Majaphit. Dalam situs makam Troloyo terdapat salah satu makam yang dinggap sebagai penyebar agama Islam di wilayah Jawa khusunya di Jawa Timur sebelum kemunculan Walisongo yaitu makam Syekh Jumadil Qubro. 

Syekh Jumadil Qubro dianggap sebagai pendahulu penyebar agama Islam di wilayah Jawa, khusunya Jawa Timur sebelum adanya Walisongo. Syekh Jumadil Qubro merupakan salah satu penyebar agama Islam di Jawa Timur yang mampu menembus kebesaran dinding Kerajaan Majapahit. Menurut perkiraan beliau hidup pada masa awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi hingga pertengahan Prabu Hayam Wuruk.Kedekatannya dengan beberapa petinggi wilayah setempat membaut beliau memperoleh kemudahan dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Kerajaan Majaphit. Berdasarkan pada batu nisan makan Syekh Jumadil Qubro tertulis angaka 1376 M, yang ditulis dengan dengan angka-angka jawa dan terdapat pahatan lafadz Allah dan formula-formula serta kutipan-kutipan dari Al Quran yang dipadukan dengan pola ukir nisan kerajaan Majaphit. 

Makam Tralaya
Selain itu yang menarik adalah makam atau petilsan Syekh Jumadil Qubro ini tidak hanya berada di kopleks makam Troloyo di Trowulan, Jawa Tmur. Namun juga ditemukan makam atau petilasan yang berada di wilayah Semarang, Jawa Tengah dan Makkasar Sulawesi Tenggara. Hal ini tentu menimbulkan berbagai spekulasi mengenai makam manakah yang merupakan makam yangasli. Namun disamping itu semua, yang menarik untuk dikaji adalah seperti apa proses islamisasi yang dibawa oleh Syekh Jumadil Qubro sehingga beliau dapat menyebar agama Islam kepada penduduk Majapahit bahkan para bangsawan Majaphit. Jika beliau tidak mempenyai pengaruh yang besar ketika itu, tentu tidak akan dengan lancarnya beliau menyebarkan agam Islam di kalangan penduduk dan bangsawan Majapahit yang notabeni pada waktu itu mereka menganut agama Hindu dan Budha. 

Namun yang menjadi ironi adalah Syekh Jumadil Qubro sebagai pelopor dan peletak proses penyebaran agama Islam di Jawa, khusunya di Jawa Timur kurang dikenal oleh masyarakat luas. Justru Walisanga yang merupakan bentukan dari Syekh Jumadil Qubro, dianggap sebagai pelopor penyebar agama Islam di Jawa yang paling berpengaruh dan sukses. Hanya masayarakat lokal saja yang tahu bahwa Syekh Jumadil Qubrolah yang merupakan pelopor penyebaran agama Islam di Jawa, khusunya di Jawa Timur pada masa Kerajaan Majaphit. 

Dalam hal ini, kajian dilakukan untuk mengemukan proses penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Syek Jumadil Qubro pada masa Kerajaan Majaphit dan pengaruhnya yang dapat dijadikan sebagai pelopor atau tonggak dari penyebaran Islam di Jawa, khusunya di Jawa Timur yang nantinya diteruskan oleh para wali yang dikenal sebagai Walisanga yang berhasil menyebrkan agama Islama yang nantinya menjadi tokoh-tokoh yang dianggap berhasil menyebarkan agama Islam diseluruh Jawa bahkan di Nusantara yang dilanjutkan oleh penerus-penerusnya. 
Latest


EmoticonEmoticon