Koordinasi Golongan

Koordinasi Golongan
Akhir-akhir ini perekonomian Indonesia mengalami kelesuan. Kelesuan ini menurut banyak pengamat mengakibatkan stagnasi ekonomi. Hal tersebut kaitannya dengan alasan-alasan ekonomi yang banyak mengalami kekurangan. Kurangnya perhatian di sektor pertanian, kurangnya modal, tenaga kerja terampil, dan devisa. Dari dulu pemerintah sudah menggalakan program transmigrasi atau sejenisnya seperti membuka lapangan kerja luar pulau melalui kementerian terkait. Namun, kebijakan tersebut hanya sebagai obat mahal yang meringankan, karena faktor keengganan sebagian masyarakat keluar daerah asalnya.

Alasan lain, modal sulit diperoleh juga karena kultur sebagian masyarakat yang tidak mau ambil resiko hutang. Padahal tabungan sedikit, dan pendapatan tidak bertambah karena lesunya ekonomi. Sementara devisa negara yang tersedia malahmembuat keadaan pemerintah semakin tertekan. Jika rencana pembangunan ekonomi diprioritaskan, banyak elemen negara ingin mengalihkan devisa untuk keperluan militer, wibawa golongan, dan kebijakan-kebijakan untuk fasilitasi anggota dewan guna menyambut pemilu. Sehingga keperluan seperti bahan-bahan mentah, modal usaha kecil menengah maupun usaha besar tidak dapat terpenuhi.

Usaha-usaha pemerintah banyak mengalami kegagalan karena korupsi. Praktek korupsi yang menurut Wertheim (1959), karena alasan ketidakcukupan gaji menyesuaikan diri dengan harga yang membumbung tinggi bagi golongan kelas menengah. Sedangkan Herbert Feith (1962) dalam Lance Castle, bagi golongan atas karena cenderung menganggap penerimaan politik lebih utama daripada daya guna efisien sebagai standar untuk jabatan dan kemajuan.

Kenyataan tadi membulatkan asumsi yang menurut Lance Castle (1982) adalah akibat faktor politik dan kultural. Memandang hambatan paling dasar tersebut, lantas kapankah perekonomian Indonesia tumbuh pesat. Hambatan ekonomi saja sangat berat. Sedangkan kelompok-kelompok lain daerah telah menggiatkan perekonomian dengan menanamkan modal, melakukan banyak perdagangan, industri, mengekspor produksi, dan meningkatkan teknik home industry, namun pada umumnya hanya berada pada posisi politik yang lemah. Golongan ini yang seyogyanya sebagai agen pertumbuhan ekonomi, justru malah terhalang faktor politik-kultural yang tidak kunjung selesai.

Memanglah kenyataan bahwa Indonesia pada tataran masyarakat modern hidup dalam lingkup golongan. Terkadang sesekali waktu akan muncul konflik horizontal yang menjadi buktinya. Kenyataan pula jika suatu negara memiliki komitmen yang kuat dengan dasar yang disetujui bersama, hambatan seperti politik dan kultur dapat diminimalisirkan. Sehingga prioritas pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab itu dibutuhkan integrasi golongan. Dan pesatnya pertumbuhan ekonomi adalah buah dari integrasi golongan.

Masalahnya, integrasi dalam dunia modern ini sangat sulit terwujud. Sejarah mencatat, bangsa ini baru dapat disatukan manakala ada benang merah yang oleh Daniel Dakhidae disebut colonial state power. Kedua, integrasi golongan dapat disatukan atas jawaban yang satu, yakni “merdeka”. Namun dewasa ini, praktek integrasi dipertunjukan melalui lagam koalisi. Padahal kesan yang ditangkap pada setiap koalisi kurang begitu memprioritaskan pembangunan ekonomi.

Di Indonesia, terdapat golongan yang menurut Lance Castle dikenal dengan sistem dua kelas. Sistem teoritis ini mengakar pada sisi historis bangsa, adalah golongan pedagang dan wong cilik. Di sisi lain adalah golongan pegawai atau kelas menengah.
Terkadang membayangkan Belanda telah banyak mengajari sebagian pribumi ilmu administrasi beserta gaya hidupnya. Justru bukan mengajari bagaimana berusaha mengolah kekayaan bumi nusantara sampai bisa menguntungkan. Akan jadi bias memang. Namun secara tidak langsung kultur peninggalan Belanda masih bisa kita rasakan di zaman sekarang, di perkotaan, dan di desa-desa banyak petani yang inginkan anaknya menjadi pegawai negeri. Inilah salah satu dasar terciptanya golongan. 

Perlu Adanya Kesepahaman

Negara jika ingin ikhtiar untuk maju, sudah saatnya menyatakan tidak pada egoisme golongan. Indonesia yang makmur harus diwujudkan. Dan golongan harus jadi bayang-bayang saja. Sementara kelesuan ekonomi yang langgeng adalah buah dari ketidaksepahaman antar golongan kelas sosial.
Kenyataan menunjukan bahwa golongan yang jauh dari kekuasaan politik, akan tetap terkungkung dalam dunianya sendiri. Tidak pernah dilibatkan dalam proses penentuan perekonomian. Dan sungguh disayangkan, bahwa yang berada di golongan ini adalah para pelaku ekonomi yang seharusnya berada di garda terdepan untuk memajukan perekonomian.

Harus ada koordinasi golongan. Golongan di atas yang memegang kekuasaan politik harus hadir kepada golongan yang tidak memiliki kekuatan politk, karena memang secara etis merekalah yang pantas. Karena akan lebih baik membangun perekonomian negara dimulai dari down ke top. Tahapan ke down (dari bawah) inilah proses koordinasi terjadi.

Kerjasama dan kesepahaman aturan politik ekonomi diterangkan melalui mekanisme serta regulasi kebijakan pro golongan kedua tadi. Sedangkan golongan yang kedua haruslah memiliki komitmen kepercayaan, keberanian akan kerjasama terlepas kultur lahiriahnya. Hal ini akan memberikan dampak pembangunan ekonomi ke atas, walaupun secara bertahap. 

Namun, hal ini akan terwujud manakala kedua golongan mau meletakan egoisme, hasrat, serta nafsu di antara dua golongan kelas sosial.
(Oleh: M. U. Fachrudin-Sejarah Unnes)

Menelusuri Jejak Nazi di Indonesia

Hitler
Tidak banyak orang yang tahu mengenai kedatangan nazi di indonesia, Kehadiran pasukan NAZI Jerman tidak lepas dari persekutuan mereka dengan Kekaisaran Jepang pada teater Perang Pasifik (1941-1945), bagian dari Perang Dunia 2 (1939-1945).

Adolf Hitler memerintahkan Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz untuk mengirimkan eskader kapal selam Jerman yg terkenal, U-Boat, untuk membantu sekutunya itu dalam menghalau armada angkatan laut Sekutu (ABDACOM/American British Dutch Australia Command), selain mengangkut mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan sekutunya, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, kapal-kapal selam itu bertugas mengawal kapal-kapal cargo yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, berupa hasil perkebunan seperti karet alam, kina, serat-seratan, dan minyak bumi, untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

KIPRAH U-BOAT DI HINDIA TIMUR Peta Sebaran U-Boat di Asia Tenggara pada Perang Dunia II Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta. Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945.
Peta Masuknya Jerman ke Nusantara
Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya. Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, dan sempat2nya menenggelamkan kapal2 Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia. Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset. Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura.

Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang. U-BOAT & SENJATA NUKLIR NAZI JERMAN YG SEMPAT MAMPIR DI JAKARTA U-195 & U-219 U-219 atau I-505 Dari sekian banyak kapal selam Nazi Jerman (U-Boat) yang beroperasi di Asia Tenggara selama Perang Dunia 2 Teater Pasifik (1942-1945), mungkin kapal selam U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah dunia, jika saja Nazi Jerman dan Jepang tidak keburu kalah perang.

Kedua kapal selam itu ternyata sedang mengangkut muatan rahasia berupa uranium dan roket Nazi Jerman V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima. Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba-lomba dengan AS dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, senjata nuklir Jepang tersebut akan ditembakkan ke wilayah AS. Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin’s Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan’s Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.
Tentara Jerman di Indonesia

Gambar 3. Pasukan jerman yang mendarat di indonesia

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi. Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman. Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 195 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia. Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT.

Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947. Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948. U-234 Fregattenkapitän Wilhelm Dommes, Komandan Deutsch Ostasiatischen Geschwader Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945.

Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk proyek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262. Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234. Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka. Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.

Bangkai Kapal Selam Jerman di Indonesia
Gambar 4. Bangkai kapal selam jerman yang ditemukan di karimunjawa, Jepara

USAI PERANG DUNIA 2 Awak U-Boat yg sempat ditahan di P. Onrust, Jakarta Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika. Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka. Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor.

Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana. Kedatangan pasukan AFNEI (Allied Forces in Nederlands East Indies) di Batavia yg bertugas melucuti pasukan Jepang dan sekutunya di Hindia Belanda pada September 1945 tak luput memindai keberadaan mantan serdadu Kriegmarine ini. Satu kesatuan dari Royal British Indian Regiment Inggris datang ke Cikopo dan mereka kaget menemukan adanya tentara Jerman di sana. Dengan menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo tsb dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor.

Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda. Uniknya, setiba di Bogor, sekelompok pejuang menyerang kamp tsb dan mencoba membebaskan para mantan serdadu Nazi tersebut. Mungkin pejuang2 tersebut mengira serdadu2 tsb ditangkap oleh Sekutu. Selanjutnya ke-260 orang prajurit tersebut diangkut ke Pulau Onrust, di Kep. Seribu di lepas pantai Batavia.

Beberapa orang di antaranya berhasil melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain, termasuk pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219. Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian diketahui meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api. Sebagian dari mereka akhirnya meninggal dan dimakamkan di Cikopo, Megamendung, Bogor.
Makan Para Tentara Nazi
Gambar 5. Makam tentara nazi yang berada dipuncak bogor

Sumber :
Oktorino,nino.2015. Nazi Di Indonesia: Sebuah Sejarah Yang Terlupakan .elex media komputindo.jakarta.
http://www.kompasiana.com/ciput.putrawidjaja/jejak-pasukan-nazi-jerman-di-indonesia_5633545db593732f0e6def02
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150414184958-20-46650/jerman-titipkan-benda-benda-di-kapal-nazi-karam-ke-indonesia/

(Oleh: Risaldi Danang Adi Saputro – Sejarah Unnes)

Bangsa Bersatu Karena Bahasa

 (Oleh: Ratna Aprilia-Sejarah Unnes)
“Tak kenal maka tak sayang” begitulah pepatah mengatakan. Ini adalah kata-kata halus yang pantas dilontarkan pada kita semua yang masih asing dengan sejarah bahasa tanah air kita, ya Bahasa Indonesia. Mengapa tak kenal? Ini merupakan pertanyaan yang harus kita jawab bersama.

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia

Sebagai generasi bangsa, sudah sepantasnya dan seharusnya kita mengetahui sejarah bangsa kita, salah satunya adalah sejarah Bahasa Indonesia, bahasa yang kita pergunakan setiap hari. Mirisnya, sebagian dari kita tidak mengambil pusing atas ketidaktahuan yang semu ini. Padahal Bahasa Indonesia erat kaitannya dengan proses terbentuknya bangsa Indonesia. Indonesia merupakan bangsa multicultural, yaitu sebuah bangsa yang memiliki beragam agama, budaya, serta bahasa. Melalui proses yang cukup panjang tercetuslah Basaha Indonesia sebagai bahasa persatuan yang diangkat dari bahasa Melayu pada saat dilaksanakan sumpah pemuda.

Rasa penasaran saya terhadap pengetahuan pemuda masa kini mengenai seluk beluk Bahasa Indonesia terjawab ketika saya bertanya pada teman-teman mengenai hal tersebut, banyak diantara mereka yang mengatakan belum tahu tentang sejarah Bahasa Indonesia. Namun, tidak menutup pandangan bahwasannya ada juga beberapa teman saya mengatakan bahwa mereka sedikit banyak tahu mengenai sejarah Bahasa Indonesia, hanya saja mereka tidak secara mendalam memahaminya.

Sekarang, yang seharusnya kita pikirkan adalah bagaimana cara mengenalkan kesejarahan Bahasa Indonesia sebagai rumpun dari Bahasa Melayu pada generasi bangsa. Mengapa perlu adanya pengenalan bahasa? Harapannya adalah kita bisa lebih memahami dan menghargai perbedaan serta mengutamakan persatuan, sebab bangsa kita bersatu lewat Bahasa Indonesia.

Sejarah Bahasa Melayu
Bahasa Melayu merupakan bagian terpenting dari kerabat Bahasa Austronesia dan berbagai bahasa lainnya  dengan batasan luas, yang ada sejak sepuluh ribu tahun lalu dari peradaban Asia Timur (Collins, 2005). Pada perkembangannya, Bahasa Melayu di Nusantara mencapai puncak pada masa Kerajaan Sriwijaya. Tanpa adanya bahasa sebagai alat komunikasi, interaksi antar individu maupun suku akan terhambat. Penggunaan bahasa melayu di Nusantara dapat kita lihat bentuk peninggalannya yaitu pada batu nisan di Minye Tujoh Aceh pada tahun 1380, Prasasti Kedukan Bukit di Palembang pada tahun 683, Prasasti Talang Tuo di Palembang pada Tahun 684, Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat pada Tahun 686, dan Prasati Karang Brahi di Bangko Merangi Jambi pada Tahun 688, peninggalan-peninggalan ini menjadi bukti bahwa Bahasa Melayu telah berkembang di Nusantara.

Ahli bahasa membagi perkembangan Bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu Bahasa Melayu kuna sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13, pada waktu itu Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi yang digunakan di kerajaan, dalam keseharian digunakan juga sebagai bahasa perdagangan, berinteraksi dengan masyarakat di pasar dan pelabuhan (Collins, 2005). Kemudian Bahasa Melayu klasik yakni dengan mulai ditulisnya huruf Jawi (sejak abad ke-15). Peralihan dari Bahasa Melayu kuna menjadi Bahasa Melayu klasik dipengaruhi dengan masuknya agama Islam di Asia Tenggara pada abad ke-13. Selepas itu, Bahasa Melayu mengalami banyak perubahan dari segi kosa kata, struktur ayat dan tulisan. Menurut pemahaman saya, hal ini terjadi karena semakin berkembangnya pemikiran manusia yang mempengaruhi ragam budaya, salah satunya bahasa. Dan perkembangan selanjutnya adalah Bahasa Melayu Modern yang ditandai dengan muncul banyaknya tulisan-tulisan dengan Bahasa Melayu, seperti Hikayat Nahkoda Muda, Bustan al-Katibin karya Raja Ali Haji seorang raja istana Riau dan lain sebagainya (Krishadiawan, 2013).

Sudah lama Bahasa Melayu di Indonesia digunakan untuk saling berhubungan dengan antar suku bangsa, demikian juga saat orang-orang Eropa datang, mereka juga menggunakan Bahasa Melayu untuk berinteraksi dengan masyarakat Indonesia. Ketika pemerintah Belanda membutuhkan tenaga Indonesia yang mampu berbahasa Belanda, maka penggunaan Bahasa Melayu sedikit tergeser (Sutjianingsih dkk, 1989).

Hubungan Bahasa Melayu dengan Bahasa Indonesia
Setelah mengetahui sejarah tentang Bahasa Melayu, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apa keterkaitan Bahasa Melayu dengan Bahasa Indonesia? Seperti kita ketahui bersama, bahwa Bahasa Indonesia diangkat dari Bahasa Melayu. Hal ini tidak dapat terlepas dari peristiwa penting yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa persatuan kita, yaitu peristiwa sumpah pemuda.

Sumpah pemuda adalah tonggak dalam sejarah pergerakan nasional bangsa Indonesia. Sumpah pemuda lahir merupakan hasil kongres pemuda kedua pada 27-28 Oktober 1928. Dalam sumpah pemuda ditegaskan cita-cita Indonesia, yaitu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan Bahasa Indonesia. Mengapa bahasa turut serta didalamnya? Karena dengan bahasa, negara Indonesia yang terdiri atas banyak suku bangsa dan ragam budaya dapat menyatu membentuk semangat nasionalisme. Semangat inilah yang nantinya menjadi kristalisasi dalam mewujudkan negara Indonesia.

Saat perencanaan sumpah pemuda yang pertama, butir ketiga dalam sumpah pemuda belum mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Muhammad Yamin menyatakan hanya ada dua bahasa yang berpotensi menjadi bahasa persatuan, yakni Bahasa Melayu dan Jawa, walaupun masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan Bahasa Jawa, namun Bahasa Melayu penggunaannya lebih luas dan lebih mudah dipahami secara umum, maka atas kesepakatan bersama diambillah Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Namun, Mohammad Tabrani mengususlkan agar nama Bahasa Melayu disamakan dengan nama nusa dan bangsa Indonesia, walaupun unsur-unsurnya Melayu, pendapat itu dapat  diterima oleh bersama dan lahirlah bahasa persatuan Indonesia yang pertama kali dikenal dengan istilah Bahasa Indonesia (Tempo, 2012).

Memilih sesuatu pasti ada dasarnya, begitu juga pemilihan Bahasa Melayu yang kemudian diangkat menjadi Bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Muhammad Yamin selaku penggagas Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional mempunyai beberapa alasan penting atas usulannya. Pertama, Bahasa Melayu telah sangat lama digunakan sebagai bahasa antar suku bangsa di Indonesia dalam kegiatan perdagangan, pers, penerbitan, lalu lintas darat dan laut. Kedua, diantara dua bahasa yang diajukan sebagai bahasa nasional, Bahasa Melayu lebih mudah dimengerti, karena tidak memiliki tingkatan tinggi rendah seperti yang ada pada Bahasa Jawa. Selain itu, Bahasa Melayu yang sederhana mudah dipelajari dan dikembangkan karena memiliki kelincahan dan kemampuan menyerap bahasa asing. Tak lepas dari itu adalah keikhlasan suku daerah lain untuk menggunakan Bahasa Melayu yang diangkat menjadi bahasa nasional, masing-masing suku tidak merasa bahasa mereka tersaingi, bahkan mereka juga menyadari akan potensi Bahasa Melayu dalam menyatukan bangsa Indonesia (Gunawan, 2005).

Adanya bahasa membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan dunia luar, begitu juga peran Bahasa Melayu yang telah diadopsi menjadi bahasa nasional Indonesia dalam menyatukan bangsa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara dan bahasa persatuan yang digunakan untuk berkomunikasi antar suku bangsa. Pada masa kolonial Belanda, Bahasa Melayu yang telah diangkat menjadi Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kedua setelah Bahasa Belanda. Tidak hanya sebagai alat komunikasi tapi juga sebagai penyemangat persatuan. Perkembangan Bahasa Indonesia pada masa penjajahan Jepang mengalami kemajuan, karena penggunaan Bahasa Belanda dilarang dan diperbolehkan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

Perkembangan Bahasa Indonesia
Pada saat ini  penggunaan Bahasa Indonesia kian beragam. Dimulai dari penggunaan di dunia pendidikan sebagai pengantar dalam pembelajaran, dalam dunia pekerjaan dan pergaualan. Kita semua pasti tahu, kalau bahasa dapat berkembang. Ya, demikian juga dengan Bahasa Indonesia. Sekarang Bahasa Indonesia sedikit banyak berbeda dengan Bahasa Indonesia masa dahulu. Misalnya adalah penulisan kata tjinta yang kini berubah menjadi cinta, kata doeloe yang kini berubah menjadi dulu dan lain sebagainya.  Apakah ini adalah hal yang salah? Tentu tidak, kawan. Bahasa kian berkembang dari masa ke masa. Dalam perkembangannya Bahasa Indonesia tidak menolak masuknya bahasa lain. Justru dengan adanya penyerapan dari bahasa lain dapat memperkaya Bahasa Indonesia terutama dari segi perbendaharaan kata. Walaupun demikian, struktur bahasa Indonesia masih tetap dalam kaidahnya. Masih senantiasa menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia (Kompas, 2012).

Masuknya kebudayaan dan bahasa asing ternyata juga memberikan dampak bagi keberlangsungan bahasa kita. Pasalnya, banyak diantara kita yang sama sekali belum tahu mengenai sejarah panjang lahirnya Bahasa Indonesia dan mereka lebih tertarik pada bahasa asing. Sebenarnya ini bukanlah masalah yang besar, namun jika kita biarkan terjadi,  dikhawatirkan  generasi kedepan akan menjadi buta pada sejarah bangsa. Jangan sampai seperti pribahasa “Kacang lupa Kulitnya”.

Andaikata kita secara kuat memegang pedoman dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kekhawatiran ini, tidak lagi menjadi ancaman. Justru menjadi suatu kebanggaan yang mana generasi Indonesia cakap dalam berbahasa. Apakah kiranya, hal yang menyebabkan kelalaian terhadap sejarah bahasa? Ada dua faktor yang menyebabkan lalainya kita pada bahasa. Yaitu faktor intern dan ekstern.

Faktor intern yang dimaksud adalah kurangnya kemauan masyarakat Indonesia untuk mengerti sejarah bahasa negaranya, sehingga berakibat pada kurangnya tindakan yang mencerminkan rasa bangga pada negara. Hal ini dapat terjadi ketika setiap individu sibuk dengan kehidupan mereka, penuh rasa acuh tak acuh dalam dirinya. Sedangkan faktor ekstern yang menjadi penyebab ketidaktahuan tentang bahasa kita adalah dibiusnya para pemuda dengan hal-hal baru yang penuh dengan fatamorgana yang seolah-olah menenggelamkan Bahasa Indonesia dari diri pemuda.

Dengan fenomena yang saat ini terjadi, misalnya adalah interaksi yang terjadi di kelas, banyak teman-teman saya yang lebih mengerti bahasa gaul daripada bahasa baku Indonesia, mereka mengaku kesulitan ketika diminta untuk berpendapat tentang suatu hal dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sementara ketika mereka bercerita tentang bahasan yang terkait pelajaran, dengan mudahnya mengucapkan kalimat Bahasa Indonesia dengan pelesetan-pelesetan bahasa. Dari hal kecil semacam ini gaya pemikiranpun akhirnya terpengaruh, amnesiapun terjadi. Parahnya lagi adalah pengorbanan para pahlawan, khususnya dalam merumuskan Bahasa Indonesia tidak tampak sama sekali dihadapan mereka.

Tidak semata-mata  menghakimi masuknya bahasa dan kebudayaan asing di Indonesia sebagai hal yang salah. Nyatanya, dengan adanya pekembangan di dunia juga memberikan dampak positif bagi kita. Kita juga dituntut untuk mengetahui bahasa asing agar kita mengetahui pekembangan zaman, dan canggihnya teknologi. Memberikan motivasi untuk bisa mencintai Indonesia juga mempelajari dunia. Dengan bahasa kita dapat menggenggam dunia (Alhada, 2012).

Bukan hal sepele dan juga serius, tapi dampaknya sangat menjurus jika hal semacam ini kita biarkan. Peran guru sejarah dalam hal ini sangat berpengaruh. Dengan adanya pendidikan sejarah yang mengenalkan sejarah bangsa, salah satunya adalah sejarah lahirnya Bahasa Indonesia akan menorehkan ingatan dalam diri siswa bahwasannya kehebatan suatu bahasa dalam mempersatukan bangsa sangatlah luar biasa. Agar senantiasa memberikan toleransi dan mengutamakan persatuan.

Sumber:  
Collins, James. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia. Hal 1. Jakarta:   Yayasan Obor
Gunawan, Restu. 2005. Muhammad Yamin dan Cita-cita Persatuan Indonesia. Hal 138. Yogyakarta: Ombak
Sutjianingsih, dkk. 1989. Sejarah Pemikiran Tentang Sumpah Pemuda. Hal 29. Jakarta: Depdikbud
Sumber Internet :
Alhada. 2012. Cara Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Diakses dari http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-42607-Makalah-Cara%20Mengembalikan%20Jati%20Diri%20Bangsa%20Indonesia.html (Diakses pada 2 Juni 2014 pukul 20.37)
Kompas.2012. Diakses dari http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/24/penggunaan-bahasa-indonesia-zaman-sekarang-496222.html (Diakses pada 30 Mei 2014 pukul 16.03)
Krishadiawan. 2013. Sejarah dan Perkembangan Bahasa Melayu. Diakses dari http://gpswisataindonesia.blogspot.com/2014/01/sejarah-dan-perkembangan-bahasa-melayu.html (Diakses pada 28 Mei 2014 pukul 18.17 WIB)
Tempo. 2012. Awalnya Bahasa Melayu sebagai Bahasa Persatuan Nasional. Diakses dari http://www.tempo.co/read/news/2012/10/28/078438136/Awalnya-Bahasa-Melayu-sebagai-Bahasa-Persatuan (Diakses pada 28 Mei 2014 pukul 18.33 WIB)