Menelusuri Jejak Nazi di Indonesia

Hitler
Tidak banyak orang yang tahu mengenai kedatangan nazi di indonesia, Kehadiran pasukan NAZI Jerman tidak lepas dari persekutuan mereka dengan Kekaisaran Jepang pada teater Perang Pasifik (1941-1945), bagian dari Perang Dunia 2 (1939-1945).

Adolf Hitler memerintahkan Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz untuk mengirimkan eskader kapal selam Jerman yg terkenal, U-Boat, untuk membantu sekutunya itu dalam menghalau armada angkatan laut Sekutu (ABDACOM/American British Dutch Australia Command), selain mengangkut mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan sekutunya, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, kapal-kapal selam itu bertugas mengawal kapal-kapal cargo yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, berupa hasil perkebunan seperti karet alam, kina, serat-seratan, dan minyak bumi, untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

KIPRAH U-BOAT DI HINDIA TIMUR Peta Sebaran U-Boat di Asia Tenggara pada Perang Dunia II Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta. Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945.
Peta Masuknya Jerman ke Nusantara
Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya. Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, dan sempat2nya menenggelamkan kapal2 Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia. Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset. Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura.

Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang. U-BOAT & SENJATA NUKLIR NAZI JERMAN YG SEMPAT MAMPIR DI JAKARTA U-195 & U-219 U-219 atau I-505 Dari sekian banyak kapal selam Nazi Jerman (U-Boat) yang beroperasi di Asia Tenggara selama Perang Dunia 2 Teater Pasifik (1942-1945), mungkin kapal selam U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah dunia, jika saja Nazi Jerman dan Jepang tidak keburu kalah perang.

Kedua kapal selam itu ternyata sedang mengangkut muatan rahasia berupa uranium dan roket Nazi Jerman V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima. Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba-lomba dengan AS dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, senjata nuklir Jepang tersebut akan ditembakkan ke wilayah AS. Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin’s Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan’s Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.
Tentara Jerman di Indonesia

Gambar 3. Pasukan jerman yang mendarat di indonesia

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi. Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman. Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 195 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia. Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT.

Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947. Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948. U-234 Fregattenkapitän Wilhelm Dommes, Komandan Deutsch Ostasiatischen Geschwader Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945.

Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk proyek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262. Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234. Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka. Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.

Bangkai Kapal Selam Jerman di Indonesia
Gambar 4. Bangkai kapal selam jerman yang ditemukan di karimunjawa, Jepara

USAI PERANG DUNIA 2 Awak U-Boat yg sempat ditahan di P. Onrust, Jakarta Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika. Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka. Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor.

Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana. Kedatangan pasukan AFNEI (Allied Forces in Nederlands East Indies) di Batavia yg bertugas melucuti pasukan Jepang dan sekutunya di Hindia Belanda pada September 1945 tak luput memindai keberadaan mantan serdadu Kriegmarine ini. Satu kesatuan dari Royal British Indian Regiment Inggris datang ke Cikopo dan mereka kaget menemukan adanya tentara Jerman di sana. Dengan menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo tsb dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor.

Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda. Uniknya, setiba di Bogor, sekelompok pejuang menyerang kamp tsb dan mencoba membebaskan para mantan serdadu Nazi tersebut. Mungkin pejuang2 tersebut mengira serdadu2 tsb ditangkap oleh Sekutu. Selanjutnya ke-260 orang prajurit tersebut diangkut ke Pulau Onrust, di Kep. Seribu di lepas pantai Batavia.

Beberapa orang di antaranya berhasil melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain, termasuk pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219. Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian diketahui meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api. Sebagian dari mereka akhirnya meninggal dan dimakamkan di Cikopo, Megamendung, Bogor.
Makan Para Tentara Nazi
Gambar 5. Makam tentara nazi yang berada dipuncak bogor

Sumber :
Oktorino,nino.2015. Nazi Di Indonesia: Sebuah Sejarah Yang Terlupakan .elex media komputindo.jakarta.
http://www.kompasiana.com/ciput.putrawidjaja/jejak-pasukan-nazi-jerman-di-indonesia_5633545db593732f0e6def02
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150414184958-20-46650/jerman-titipkan-benda-benda-di-kapal-nazi-karam-ke-indonesia/

(Oleh: Risaldi Danang Adi Saputro – Sejarah Unnes)


EmoticonEmoticon