Perjalanan Sejarah dan Perubahan Fungsi Bangunan Lawang Sewu

Spoorweg Maatschappij
Menurut arsip museum Lawang Sewu, gedung ini didirikan oleh NIS di Semarang pada tahun 1904 dan diresmikan pada tahun 1907 sebagai kantor pusat administraasi perkeretaapian di Jawa Tengah atau Het Hoofdkantoop van Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij yaitu kantor pusat administrasi NIS. NIS adalah perusahaan kereta api swasta Belanda yang memperoleh konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalur kereta api yang menghubungkan Semarang dengan daerah subur di wilayah Surakarta dan Yogyakarta atau yang disebut dengan Vorstenlanden (Tio dalam Murti, 2014).
            NIS sendiri sudah berdiri sejak 1864, jalur pertama yang dibuat adalah Semarang-Yogyakarta. Pembangunan jalur tersebut dimulai pada 17 Juni 1864. Pada 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.
            Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administrative. Lokasi yang dipilih kemudian adlah di ujung Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (sekarang Jalan Soegijpranata). Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau.
            Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda. Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo.
            Sebelum dilakukan pembangunan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari gunung Merapi. Pondasi pertama dibuat pada 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan diatasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati. Lawang Sewu resmi digunakan pada tanggal 1 Juli 1907 (http://wisatasemarang.hostoi.com/lawangsewu/lawangsewu.html).
            Pembangunan Lawang Sewu dilaksanakan dengan mempertimbangkan iklim panas di Wilayah Semarang. Karena itu pada bangunan Lawang Sewu dibuat memiliki banyak pintu dan jendela, dan juga ruang bawah tanah yang diisi air. Ruang bawah tanah ini pada musim hujan digunakan sebagai penampung air agar air hujan tidak menggenangi halaman gedung. Selain sebagai penampung air hujan, ruang bawah tanah ini juga berfungsi sebagai sistem pendingin ruangan yang ada di bagian atas. Setelah beroperasi sejak tahun 1907, pembangunan Gedung NIS ini dilanjutkan dengan pembangunan gedung dan fasilitas tambahan yang seluruhnya selesai pada tahun 1932 (Murti, 2014).
            Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Saat memasuki bangunan utama, akan ditemui tangga besar ke lantai dua. Diantara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas (http://seputarsemarang.com/lawang-sewu-pemuda-1272/).
            Bentuk atap yang digunakan pada rancangan Bangunan Lawang Sewu adalah atap perisai dengan sudut kemiringan 450 sehingga air hujan dengan cepat jatuh ke bawah. Penggunaan tritisan (over stack) terlihat pula pada Bangunan Lawang Sewu untuk menghindari percikan air masuk ke ruangan. Begitu juga di bagian bawah (kaki) terjadi peninggian peil lantai dari peil tanah dasar setinggi 50 cm, sehingga dapat terhindar dari banjir. Samping halamannya dibiarkan alami tanpa perkerasan sehingga air hujan dapat meresap dengan cepat ke dalam tanah.
            Bukan pada pintu masuk merupakan pintu berdaun ganda dengan panel tebal dan kedap yang terbuat dari kayu. Tipe jendela yang digunakan adalah jendela ganda dengan krepyek dengan ukuran besar yang berfungsi untuk memaksimalkan udara yang masuk ke dalam ruangan (Sukawi, 2004).
            Selain itu, hal-hal lain dari Bangunan Lawang Sewu juga telah direncanakan dengan sangat baik. Seperti pondasinya yang dari beton, dinding yang terdiri dari dinding pemikul dan dinding masif, dan atap limasan yang ditutup dengan genteng. Selain itu saluran air juga telah dirancang dengan baik. Untuk air bersih berasal dari sumur besar yang dipompa menuju tendon di atas bangunan Menara kembar kemudian baru disalurkan ke seluruh bangunan. Air kotor langsung disalurkan ke selokan yang ada di sekitar bangunan, sehingga tidak menggunakan tempat penampungan atau bak control dimana air tersebut dialirkan melalui pipa yang ditanam di dalam tanah. Sedangkan untuk air hujan dari atap ditampung pada talang terbuka yang lebar yang kemudian disalurkan melalui pipa tertutup ke bawah tanah yang berada di basement yang kemudian air tersebut dipergunakan kembali setelah diproses. Untuk drainase air hujan pada bagian luar umumnya menggunakan peresapan setempat. Yang menarik dari Bangunan Lawang Sewu adalah adanya saluran penangkal banjir yang terlihat jelas (Sukawi, 2004).

Fungsi Lawang Sewu dari Masa ke Masa
            Bangunan Lawang Sewu yang merupakan salah satu landmark kota Semarang ini memiliki perjalnan sejarah yang panjang. Fungsi dari Bangunan Lawang Sewu mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan berubahnya penguasa di Indonesia, dimana perubahan fungsi tersebut juga mengakibatkan perubahan pandangan masyarakat terhadap keberadaan Bangunan Lawang Sewu.
           
Selain beberapa kali mengalami perubahan, Bangunan Lawang Sewu juga merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah. Bangunan Lawang Sewu tidak dapat dipisahkan dari sejarah Perkeretaapian di Indonesia. Bangunan ini juga menjadi saksi saat terjadi Pertempuran Lima Hari di Semarang.
            Pada masa pendudukan Belanda, sejak tahun 1907 Bangunan Lawang Sewu digunakan sebagai Kantor Pusat Administrasi NIS, yakni untuk mengurusi Perkeretaapian yang dikelola oleh NIS. Namun fungsi Bangunan Lawang Sewu berubah setelah kedatangan Jepang di Indonesia.
            Pada 1 Maret 1942, pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa dan tidak mendapat perlawanan berarti dari pasukan Belanda. Pada 8 Maret 1942, Belanda resmi menyerahkan kakuasaan atas Hindia Belanda kepada Jepang.
            Semarang merupakan kota penting yang berfungsi untuk mengangkut berbagai hasil bumi dari daerah pedalaman Jawa Tengah untuk kemudian menggunakan kereta menuju pelabuhan Semarang.
            Pada saat Jepang menguasai Semarang, mereka mengambil alih Lawang Sewu sebagai kantor pusat perkeretaapian di Semarang. Seluruh perusahaan kereta api di Indonesia disatukan di bawah pengawasan angkatan darat Jepang.
            Menurut arsip Museum Lawang Sewu dan fisik bangunan yang masih ada hingga sekarang, selama menduduki gedung, Jepang melakukan beberapa modifikasi terhadap gedung Lawang Sewu. Modifikasi ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan Jepang yang menjadikan Lawang Sewu sebagai penjara.
            Ruang bawah tanah Lawang Sewu yang memiliki tinggi ruangan sekitar 2 meter. Pada zaman Belanda, ruang bawah tanah ini dipenuhi air. Pada saat dikuasai Jepang, air yang ada di ruang bawah tanah dikurangi.
Setelah mengurangi volume air pada ruang bawah tanah, Jepang menambahkan beberapa penjara jongkok yang berupa sekat berpetak-petak di ruang bawah tanah. Petak-petak ini berukuran 2x3 meter. Petak-petak ini sudah ada sejak zaman Belanda, dan Jepang hanya menambahkan trails besi pada petak-petak ini agar tidak ada tahanan yang bisa berdiri. satu petak ini bisa diisi oleh 5-6 orang dewasa yang berada dalam kondisi jongkok. Petak ini diisi oleh air sehingga tahanan yang berada di dalamnya terendam sampai sebatas kepala.
Selain menggunakan penjara jongkok, Jepang juga membuat penjara berdiri di ruang bawah tanah. Penjara berdiri berupa sel-sel yang berukuran sekitar 1x1 meter. Berbeda dengan penjara jongkok yang memanfaatkan sekat-sekat peninggalan Belanda, bagian penjara berdiri ini dibangun sendiri oleh Jepang. Dinding yang dibangun kemudian dilengkapi dengan trails besi yang menjaga agar tahanan tidak bisa keluar. Sel ini juga bisa digunakan untuk menampung 5-6 orang dewasa sekaligus. Karena ukurannya lebih kecil dari penjara jongkok, tahanan yang dimasukkan dalam sel ini harus berhimpitan satu sama lain dan tidak bisa merubah posisi mereka selain posisi berdiri.
Jepang juga menambahkan beberapa meja yang digunakan untuk emmenggal kepala tahanan di ruang bawah tanah. Meja-meja ini terbuat dari besi yang disemen ke dalam lantai bangunan dan biasa digunakan untuk meletakkan kepala tahanan yang akan dieksekusi utnuk kemudian dipenggal menggunakan katana. Meja yang dahulu digunakan untuk eksekusi tersebut saat ini sudah tidak ada lagi di Lawang Sewu, yang tersisa hanya bagian kaki dari meja tersebut yang masih tetap tertancap di lantai ruang bawah tanah.
Pada bagian belakang gedung Lawang Sewu, terdapat sebuah lubang pembuangan yang menghubungkan ruang bawah tanah dengan halaman belakang gedung. Lubang pembuangan ini dibuat pada masa pendudukan Jepang. Jepang menggunakan lubang pembuangan ini untuk membuang jenazah-jenazah tahanan yang tewas di dalam penjara (Murti, 2014).
Penguasaan Jepang atas Bangunan Lawang Sewu berlangsung dari tahun 1942-1945 sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Tahun 1945 menjadi kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia), tahun 1946 dipergunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI pindah ke kantor de Zustermaatschappijen. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia tahun 1949 Bangunan Lawang Sewu digunakan Kodam IV Diponegoro, dan pada tahun 1994 gedung ini diserahkan kembali kepada kereta api (Perumka) yang kemudian melebur menjadi PT. KAI (Persero) dan akhirnya pada tahun 2009 Lawang Sewu dilakukan restorasi bangunan sampai akhirnya menjadi destinasi wisata di Kota Semarang (Wibawa, 2015).
            Pemugaran Bangunan Lawang Sewu memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum pada 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono (http://seputarsemarang.com/lawang-sewu-pemuda-1272/).
            Selain memiliki perjalanan panjang, Bangunan Lawang Sewu juga merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah bangsa. Keberadaan Lawang Sewu merupakan cikal bakal adaya Kereta Api di Indonesia. Bangunan Lawang Sewu juga merupakan saksi sejarah perjalanan penjajahan kolonial sampai Pertempuran Lima Hari di Semarang.
            Saat meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 14-18 Agustus 1945, Lawang Sewu dan sekitarnya menjadi pusat pertempuran antara laskar Indonesia dan Tentara Jepang. Pada peristiwa ini, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima diantaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Untuk memperingati mereka, di sebelah kiri pintu masuk (gerbang) didirikan sebuah tugu peringatan bertuliskan nama para pejuang Indonesia yang gugur.
            Perusahaan kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman Lawang Sewu pada 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal (http://wisatasemarang.hostoi.com/lawangsewu/lawangsewu.html).
            Dalam perkembangannya sekarang, banyak hal yang dilakukan untuk membuat Bangunan Lawang Sewu menjadi lebih baik. mulai rencana dialih fungsikan sebagai hotel, kantor dan pelayanan pembelian tiket PT.KAI, exibition room yang dilengkapi pertokoan, galeri foto, ruang converensi, sentra industri kreatif sampai rencana penggunaan sebagai museum kerata api bahkan sebagai multy use building, menunjukkan belum adanya suatu konsep pengalih fungsian yang jelas, baik dari PT.KAI sebagai pemilik dan pemerintah Kota Semarang sebagai pemangku wilayah dimana bangunan Lawang Sewu berada.
            Seiring berganti-gantinya fungsi dari Bangunan Lawang Sewu, penilaian masyarakat terhadap Lawang Sewu juga mengalami perubahan-perubahan. Saat Lawang Sewu digunakan sebagai Kantor NIS, dimata masyarakat Gedung Lawang Sewu merupakan salah satu gedung bangsawan yang megah, tatapi image gedung itu berubah saat gedung Lawang Sewu digunakan oleh Jepang sebagai kantor tentara Jepang. Pada saat itu gedung Lawang Sewu terkenal dengan gedung yang penuh dengan kesadisan, karena oleh pemerintah Jepang digunakan sebagai lokasi pembantaian oleh musuh –musuh Jepang. Pada tahun berikutnya dari 1949 sampai dengan tahun 1994 Lawang Sewu belum berganti image karena pada saat itu gedung Lawang Sewu digunakan hanya sebatas kantor adminitrasi oleh Kodam IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah Perhubungan Jawa Tengah. Pada tahun 1994 gedung Lawang Sewu kosong dan pada tahun inilah isu keangkeran dan mistis gedung Lawang Sewu berkembang di masyarakat hingga saat ini.
            PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang saat ini mengelola Lawang Sewu sedang giat-giatnya memberdayakan asset-aset yang selama ini terlantar. Salah satu asset milik PT KAI yang kini sudah direvitalisasi adalah Bangunan Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah. BUMN kereta api kini mencoba mengubah kesan angker yang selama ini sudah mengakar di gedung peninggalan Belanda tersebut (Wibawa, 2015).

            Bangunan Lawang Sewu memang bukan bangunan biasa yang kemudian menjadi tempat pariwisata saat ini. Lawang Sewu telah mengalami perjalanan panjang sejak pembuatannya pada masa Belanda, juga mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Sehingga Lawang Sewu yang sekarang merupakan hasil dari proses dari perjalanannya di masa lalu. Sejarah Bangunan Lawang Sewu yang patut dan seharusnya terus dikenang, sebab sejarah tersebut telah mengambil bagian tempat dari sejarah penuh Bangsa Indonesia.

(oleh: Ratna Aprilia-Sejarah Unnes)
First


EmoticonEmoticon