Sejarah Desa Bruno Pelarian atau Perjuangan?

Desa Bruno
Perbatasan Kecamatan Bruno


Bruno merupakan salah satu nama kecamatan dikabupaten Purworejo, yang terletak di barat laut Kota Purworejo dan sebelah utara dari kota Kutoarjo. Kecamatan Bruno juga berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo diutara dan barat, serta terletak di sebelah selatan dan timur kecamatan Kemiri. Letak dari kecamatan Bruno yang ditengah tengah ini menjadikan seluruh wilayahnya merupakan wilayah pegunungan. Dibalik nama Bruno sendiri tidak jauh dari sejarah perjuangan Bendara Raden Mas Antawirya (Pangeran Diponegoro).

Kata Bruno diambil dari segi historis, pada masa lampau daerah ini masih memiliki hutan yang luas dan lebat sehingga pernah menjadi tempat persembunyian pasukan Turkiyo (sebuah pasukan Pangeran Diponegoro yang meniru pasukan perang negara Turki)  mengunjungi sebagian rakyatnya di Bagelen untuk memberikan semangat dan motivasi perang. Saat itu sebuah pantangan bagi sebuah pasukan Mataram untuk menyebrangi sungai Bogowonto. Menurut kepercayaan kuno, akan terjadi nasib sial jika sebuah pasukan Mataram nekad menyebrang Sungai Bogowonto. (http://www.mas3ono.com/2015/12/asal-usul-desa-bruno.html/).

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan Pangeran Diponegoro dengan pasukan Turkiyo mengambil jalan memutar kearah utara untuk sampai kedaerah Bagelan (sekarang Purworejo) tanpa menyebrangi sungai Bogowonto yang memiliki mitos dikalangan pasukan Mataram. Namun, pasukan Belanda mengetahui bahwa pasukan Turkiyo tidak akan menyebrangi sungai tersebut dan kemudian pasukan Belanda mencegatnya dari arah sebaliknya dan mengepung dengan pasukan lengkap bersenjata, sehingga peperangan tak terelakkan dengan ketidak seimbangan pasukan antara pasukan Diponegoro dan pasukan Belanda.

Lahir sampai wafat
Ketidakseimbangan pasukan Belanda yang dibantu oleh pasukan Legiun Mangkunegara (sebuah kadipaten yang dibentuk dan dibangun dari pendanaan Belanda) yang dipimpin oleh Pangeran Prangwedana, membuat pasukan kecil Turkiyo kocar kacir dan melarikan diri. Pangeran Diponegoro dengan abdi setia, Senopati Gajah Permada melarikan diri ke arah hutan, namun mereka masih terus dikejar oleh pasukan musuh dan dikepung dari segala penjuru. Untuk meloloskan diri Pangeran Diponegoro dan Senopati Gajah Permada memanjat sebuah pohon besar dan rimbun untuk bersembunyi.

Seluruh pasukan musuh terus mencari mereka berdua, dan beberapa orang berteriak “Buruane ora ono!” yang berarti “buruan tidak ada”, kemudian dari buruan ora ono disingkat menjadi Bruno, untuk mengenang peristiwa Pangeran Diponegoro meloloskan diri dari pasukan Belanda yang beraliansi dengan pasukan Legiun Mangkunegara. Sebenarnya, mereka berdua mengamati musuh dari atas pohon.

Pada tahun 1945-1949 beberapa pahlawan pejuang kemerdekaan yang dikejar kejar oleh tentara Belanda semasa Revolusi Fisik, namun tentara Belanda tidak dapat menemukan para pejuang yang lari ke daerah tersebut (diburu tidak ada), sehingga dalam bahasa jawa “diburu ora ono” disingkat menjadi “bruno” dan kurang lebih satu tahun kecamatan Bruno ini pernah menjadi Ibukota Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1948-1949 penyebab dari perpindahan ibukota sendiri disebabkan pada saat itu Semarang dikuasai oleh Belanda.

Dikutip dari buku “Bunga Rampai Kisah-Kisah Kejuangan 45 (buku yang disusun dari kumpulan kesaksian para pelaku sejarah perang kemerdekaan di Purworejo)”, saat itu Gubernur Jawa Tengah KRT Wongso Nagoro menempati rumah Dul Wahid, penduduk desan Kembangan. Keberadaan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah di desa Kembangan, Bruno didukung oleh “Pemerintah Militer” di masa perang kemerdekaan ke dua. Terdapat satu batalyon TNI yang membawahi dua pleton dan empat kompi pasukan yang dipimpin R. Sroehardoyo. (https://id.wikipedia.org/wiki/Bruno,_Purworejo).


EmoticonEmoticon