Peran Pendidikan Seorang Mahasiswa Daerah

peran mahasiswa daerah
Siapa pun sepakat, kualitas pendidikan harus selalu ditingkatkan. Hal tersebut adalah sebuah keniscayaan, karena pendidikan adalah salah satu soko guru peradaban maju sebuah bangsa. Dalam konteks mahasiswa dan pendidikan –terlepas dari bidang yang digeluti- keduanya akan mencapai titik temu pada kondisi-kondisi tertentu, seperti pengabdian dan penelitian. Jadi bukan khayalan jika mahasiswa tak bisa mendidik. Dalam konteks praktis, muncul pertanyaan, lantas akan jadi apakah mahasiswa jika sudah kembali ke daerah asalnya? Akan berbuat apakah mahasiswa yang syarat intelektualitas ini di daerah asalnya?

Mahasiswa rantauan pastilah akan kembali ke kampung halaman. Peran sosial dari lahir sudah melekat kepadanya sebagai warga masyarakat yang diakui keberadaannya di daerah. Hal itu juga mengikat pada status dan peran sosialnya. Setelah lulus, mahasiswa kembali ke daerah asal cenderung membawa sejuta harapan dan mimpi pribadi dan keluarga. Namun sedikit sekali yang menyentuh kesejahteraan sosial minimal dalam skala kecil pada daerah asalnya.

Lewat pendidikanlah, masyarakat mampu berpikir kritis menyikapi realita sosial-budaya. Lewat pendidikanlah, agen perubahan bisa dimasukan. Lewat pendidikanlah, ide dan inovasi mampu berkembang. Lewat pendidikan dan pengetahuan, masyarakat mampu menggunakan teknologi pertanian, modernitas sosial, dan perdagangan maupun jasa. Maka dari itu pendidikan yang relevan dan bermutu merupakan faktor penentu langkah nyata seorang mahasiswa.

Dinamika Mahasiswa Sebagai Pendidik
Setelah dinyatakan lulus, mahasiswa akan berpikir keras dan bertindak agar mendapat pekerjaan. Ranah ini yang nantinya akan menentukan apakah ia mampu bekerja dengan baik dan juga ia tidak kehilangan fungsi sosialnya di dalam masyarakat. Memang, biasanya mahasiswa yang kembali dan mendapat pekerjaan yang lebih baik seolah-olah lupa dan ingin mempunyai kehidupan di luar daerah asalnya. Tidak salah, namun keterikatan sosial dari masyarakat kepada dirinya sudah mempunyai status semu yang resmi. Ikatan batin antar masyarakat seolah-olah mampu menerjemahkan apa yang diharapkan masyarakat pada sang mahasiswa.

Kondisi yang demikian akan mampu dijawab oleh mahasiswa yang mampu mendidik. Meminjam frasa dari Fathur Rokhman (2014:59), pendidik yang dimaksud adalah nilai keteladanan yang bertahan sebagai salah satu format yang terbaik. Dan keteladanan patut diterapkan di lingkungan terkecil yakni keluarga, sampai lingkup daerah. Keteladanan adalah pendidikan yang efektif untuk memperoleh hasrat dalam pemenuhan bersosial seorang mahasiswa. Masih menurut Fathur Rokhman format keteladanan dilakukan dengan tiga syarat. Pertama, ia harus melibatkan diri sebagai anggota masyarakat. Dan ia harus mampu bertahan dalam benturan nilai-nilai di dalam masyarakat. Kedua, ia harus mampu menyesuaikan diri pada lingkungan masyarakat –syukur jika mampu merubah. Ketiga, adanya penempatan lembaga pendidikan yang terintegrasi dengan masyarakat. Yang ketiga ini merupakan faktor pendukung sang mahasiswa.

Peran Mahasiswa Pendidik dan Pekerja Sosial
Sungguh naif jika mahasiswa yang kembali ke daerah asal menganggap perannya abstrak dan netral. Karena sewajarnya ia adalah seorang pemikir muda potensial. Di sini ia seharusnya berperan menjadi pendidik dan pekerja sosial. Sebenarnya, menurut pemikiran Freire (2007:77) dari sudut pandang gramatikal, peran pekerja sosial tidak dalam perubahan sosialnya, namun muncul dengan sendirinya dalam wilayah yang luas. Pekerja sosial bersama dengan faktor lain berperan dalam sturtur sosial masyarakat. Oleh sebab itu ia harus mempunyai peta rencana yang jelas. Jelas apa yang akan ia lakukan sebagai pemikir dan menjawab tantangan dan harapan sosialya.

Kejelasan ini saya jabarkan pada salah satu bidang yakni pendidikan. Sudah keharusan mahasiswa dibekali dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat ia kembali, dapatlah mempunyai perencanaan matang terhadap daerah asalnya jika memang ingin berkontribusi. Perncanaan ini bisa lewat pendidikan. Mendidik tanpa melangkahi nilai dan norma yang ada. Mendidik generasi penerus yang duduk dibangku sekolah. Mendidik dan mengenalkan perkembangan teknologi informasi. Mendidik bagaimana bertransformasi sosial sesuai pakem dan ajaran agama. Maupun mendidik untuk berorganisasi yang baik di tingkat desa atau daerah.

Melalui pemikiran dan tindakan mereka itulah, menurut Freire, masyarakat dapat melihat bagaimana dalam struktur sosial itu mereka dikondisikan sedemikian rupa dalam memahami dan bertindak sesuatu, dan dengan cara pendidikan persepsi mereka mulai berubah, meskipun tidak berarti bahwa telah terjadi perubahan struktur sosial.

(oleh: M. U. Fachrudin-Sejarah Unnes)


EmoticonEmoticon