Menghilangkan Kemiskinan

cara menghilangkan kemiskinan
Kemiskinan adalah gejala masyarakat karena kurang terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup dilihat dari segi ekonominya. Terlebih di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sampai saat ini masih banyak saudara-saudara dan masyarakat Indonesia tingkat hidupnya berada di garis ekonomi menengah kebawah. Satu hal yang patut dicarikan penyelesaian dari semua pihak.

Menurut Abu Anas dalam artikel terbitan Prisma, mengenai kemiskinan, sejak Soeharto pada April 1993 membahas program “mengentaskan” kemiskinan. Sejak itu pula sampai pembahasan orang-orang yang dibawah garis kecukupan ini masih menjadi kajian utama pemerintah. Mengentaskan kemiskinan yang oleh Prof. Harimurti Kridalaksana ialah “menolong orang-orang miskin”. Hal ini adalah semacam program amaliah dari pemerintah.

Gerakan amaliah dari pemerintah sampai sekarang masih dapat kita jumpai di Indonesia manakala setiap kebijakan menaikan harga BBM dengan dalih untuk mengurangi subsidi. Padahal jika ditarik ke akar, pemerintah punya andil membuat BBM itu disubsidi. Subsidi pula dapat dikatakan sebagai gerakan amaliah dari pemerintah. Sejalan dengan ini, menurut Hotman Siahaan dalam harian Kompas tertanggal 15 Desember 1988, mengenai gerakan amaliah pada dasarnya menimbulkan ketergantungan yang semakin tinggi karena bisa menimbulkan mental subsidi dan melemahkan inisiatif. Oleh sebab itu tahapan amaliah harus segera diubah untuk meningkatkan tingkat kedewasaan rakyat.

Kesejahteraan rakyat yang dicanangkan pemerintah melalui berbagai subsidi dan Bantuan Langsung Tunai yang sering diluncurkan pemerintah sebenarnya mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan yang baru dimungkinkan akan tetap ada manakala masih berdasarkan sistem dan struktur yang ada. Karena mengentaskan kemiskinan belumlah menuntaskan atau menghabiskan kemiskinan.

Bicara mengenai kemiskinan, bicara pula mengenai fakir miskin. Dalam pembahasan ini ada pertanyaan, bagaimana fakir miskin dalam Al-Quran. Menurut Buletin DDII No.7 Tahun XX 1993. Secara jelas Al-Quran membela dan memihak kaum dhuafa. Termaktub dalam Quran Surah Al-Qashash: ayat 5-6 yang berbunyi “Dan Kami hendak member karunia kepada orang-orang tertindas (mustadhafain atau dhuafa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan Kami tegakkan kedudukan mereka di bumi.”. Namun melihat kenyataan di bumi, masih banyak kaum tertindas dan fakir yang tetap tertindas dan miskin. Satu hal keyakinan kita bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya. Pun juga dengan Al-Qashash: 5-6 tersebut. Lantas bagaimana menurut manusia jika realita masih menampakan demikian? Mengapa?

Allah Yang Maha Mengetahui tahu benar bahwa masyarakat dunia telah terpecah atau terbagi atas kaum-kaum. Ada kaum kaya yang menindas, dan ada kaum miskin yang tertindas. Demikian yang mula-mula terkandung maksud dari Al-Qashash. Mungkin ada sebagian orang yang menyangkal masyarakat manusia telah terpecah ke dalam kelompok-kelompok. Ada orang yang mengatakan itu tidak terjadi manakala di masjid. Di masjid biar miskin maupun kaya, majikan atau buruh, bila ia datang lebih dahulu, maka berhak menempati saf terdepan. Memang ada benarnya bila dilihat secara formal. Namun ketika diperlihatkan keadaan dan kondisi di pabrik, di perkebunan, akan lain cerita dengan di masjid.

Turunnya Surah Ar Ra’du ayat 11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”. Surah ini mengokohkan pandangan bahwa umat manusia sudah terpecah-pecah menjadi kaum-kaum. Perkembangan sejarah peradaban manusia yang terus berjalan menimbulkan perpecahan itu. Sejarah mencatat bagaimanapun terampilnya seseorang, ia tidak akan bisa menjadi kaya tanpa menguasai hasil tenaga kerja orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Relasi internal akan menjadi timpang karena sebuah sistem yang mempunyai struktur inilah yang kemudian menjadi ada sebagian orang yang kaya dan ada juga yang miskin.

Seperti diketahui, menurut Abu Anas, masyarakat primitif berjumlah terpecah menjadi kaum atau kelompok. Hidup secara bersama, seperti mencari makan dan makan bersama. Setelah manusia makin maju, setelah ada sebagian manusia berhasil menguasai hasil tenaga kerja manusia yang lainnya mulailah ia berangsur menjadi kaya. Timbullah yang kaya dan miskin.

Seseorang tak akan dapat bekerja jika darah tidak mengalir dalam tubuh seseorang itu. Karena itulah sesungguhnya hasil tenaga kerja orang lain yang dikuasai oleh orang kaya itu adalah jumlah darah yang mengalir pada tubuhnya. Ia telah berhenti menjadi manusia manakala darah tidak mengalir lagi. Dan Allah tahu benar bahwa ada manusia yang suka memakan darah manusia lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dinyatakan pula pada Surah Al-An’am: ayat 145 yang berbunyi “Katakanlah: tiada kuperoleh dalam apa yang diwahyukan kepadaku yang diharamkan atas orang memakannya, kecuali mayat (bangkai), darah yang mengalir atau daging babi, karena demikian itu keji dan fasik”. Tuan budak memang tidak secara langsung memakan darah yang mengalir dalam tubuh budak-budaknya. Ia menghirup atau memakannya melalui pemilikan hasil tenaga kerjanya. Mungkin karena itulah HOS. Tjokroaminoto dalam tulisannya “Apakah Sosialisme itu?’  mengatakan bahwa menghisap keringat orang bekerja, memakan hasil kerja orang lain, tidak memberikan bagian keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya). Semua perbuatan serupa itu yang oleh Karl Marx disebut dengan Meerwaarde adalah dilarang sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itu memakan riba’ belaka.

Bertolak dari Surah Ar-Ra’du ayat 11, maka yang paling bertanggung jawab atas belum terwujudnya apa yang dijanjikan Allah dalam Surah Al-Qashash: 5-6 ialah kaum tertindas dan miskin itu sendiri. Jika orang kaya itu benar-benar beragama Islam secara lahir dan batin tentu dia turut bertanggung jawab. Konsekwensinya ia akan berhenti memakan darah yang mengalir dalam tubuh orang lain. Dan hak-hak yang terdapat dalam hartanya akan diserahkan. Jika berbuat demikian, maka berhenti pulalah ia menjadi orang kaya. Lain jika Islamnya setengah-setengah. Sikap orang kaya yang berkomitmen dengan agama Islam sesuai dengan Surah Azzariyat ayat 19 yang berbunyi “Dalam harta orang kaya ada hak orang miskin yang tidak meminta”. Persoalannya adalah orang kaya itu bersedia menyerahkan hak itu kepada yang bersangkutan? Tegasnya kaum tertindas dan miskin itulah yang harus merubah nasib hidupnya dengan tidak lagi ketergantungan. Peranan pihak lain hanya bersifat bantuan.

Sedangkan menurut Masdar Mashud dalam tulisannya di Tempo tertanggal 1 Mei 1993 mengatakan, kemiskinan itu bukan terjadi karena takdir Tuhan, melainkan karena sistem atau struktur yang timpang. Dan itu hasil ulah manusia sendiri secara keseluruhan. Sebab itu jika kemiskinan hendak diatasi, satu-satunya jalan ialah mengubah sistem atau sturktur yang timpang tadi sedemikian rupa sehingga setiap orang dijamin dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Tujuan yang hendak dicapai Surah Al-Qashash: 5-6 bukan sebatas mengentaskan kemiskinan melainkan menuntaskan kemiskinan. Untuk itu sistem dan struktur yang timpang harus diganti dengan sistem atau struktur yang adil. Dengan terwujudnya Al-Qashash: 5-6 di bumi, maka tak ada lagi orang yang meminta-minta, yang mengharap belas kasihan akan diberi zakat. Hukum zakatnya masih ada, tetapi tak lagi berfungsi yang diyakini kata Abu Anas suatu saat pasti tidak aka ada lagi jurang antara kaya dan miskin di bumi.


Seperti kita telaah bersama, kemiskinan adalah hal yang memang sekarang ada dan harus kita sadari sebagai orang berakal untuk turut serta memikirkan nasib saudara kita yang masih kekurangan dengan bijak dan tepat. Dengan kemandirian orang-orang miskin yang dari dalam diri sendirinya mempunyai harapan dan kemauan untuk berubah. Maka pemegang kebijakan negeri ini haruslah sadar dan tahu betul pendekatan bijak terhadap sebagian besar rakyatnya ini, jika memang pemerintah mengaku dirinya beradab dan beragama. Wallahualam bishawab.

(oleh: Muhammad Ulil Fachrudin-Sejarah Unnes)


EmoticonEmoticon